Translate

Sabtu, 17 Januari 2015

Bait Cerita Dibalik Kantung Blezer (Part 1)



Bismillahirrahmanirrahim...
Jejak perjalanan hamba Alloh menuju satu kata, yang dibilang sukses.
Sukses, satu kata yang selalu terucap sejak aku duduk dibangku sekolah dasar sampai saat ini aku duduk diperguruan tinggi negeri sebuah kota kecil di ujung barat pulau jawa. Aku-pun belum paham betul apa itu sukses hakiki, yang jelas sejak SD jika ada yang bertanya “mau jadi apa aku ini?” aku selalu menjawab dengan entengnya “mau jadi orang yang sukses lah, biar bisa bawa ibu dan bapak keliling dunia”.
Namun sampai saat ini aku tak bisa mendefinisikan sukses seperti apa yang akan ku kejar? Jangankan untuk memahami makna sukses itu, terkadang untuk mengenali diri sendiri saja rasanya sangat sulit. Ku coba bercermin agar mengetahui diri ini, namun sulit sekali bercermin diantara kerumunan banyak orang. Yang mana pantulan dari bayang diriku? Apakah yang ini? Ahh.. sudahlah, semoga dengan berjalannya waktu, fokus pada cermin yang kugunakan untuk melihat seperti apa diri ini semakin tajam dan terfokus.
Kucoba berlari mengejar sukses itu walau belum kukenal dengan jelas siapa SUKSES itu? Apakah sukses itu akan menjadi teman sejatiku suatu saat nanti? Ataukah tidak akan kudapatkan sampai kapanpun. Waktu berputar begitu cepat, kupahami semua yang ada, semua yang selalu kusebut itulah sebuah kesuksesan. Walau pada akhirnya kutemui jalan buntu untuk mengenal lebih jauh apa itu sukses.
Apakah yang mengendarai mobil mewah, itukah sukses? Apakah yang memiliki rumah besar nanmewah, itukah sukses? Apakah yang memiliki usaha dengan omset penghasilan yang besar, itukah sukses? Apakah mempunyai pekerjaan dengan jabatan tinggi dan upah besar, itukah sukses? Tapi pemikiran itu tak cukup sampai disini, aku mulai merenung.. apakah orang yang memakan hak orang lain itu sukses? Apakah orang yang duduk dibarisan anggota dewan perwakilan rakyat itu sukses? Tanpa kacamata mungkin dapat kunilai, semua itu adalah kesuksesan. Karena aku yakin, untuk memperoleh itu semua, mereka tak hanya duduk diam menunggu takdir itu datang dan berteman akrab dengan mereka.
Ada lagi sebuah fenomena, dimana aku melihat seseorang yang bermain tipu-menipu, entah itu dalam usaha penjualan atau sejenis bisnis multi level marketing. Mereka menjuluki diri mereka sukses, entah dari apanya tapi aku tak melihat sedikitpun indikasi sukses ada pada diri mereka. Berbeda dari kacamata lain yang kugunakan untuk melihat sebuah kesuksesan, saat aku berpergian seorang diri menggunakan angkutan umum, bus antar kota dan provinsi, banyak sekali pedagang makanan kecil yang memanggul dagangan mereka dan berlari mengejar bus. Kulihat tubuhnya yang mulai menua, lusuh, dan terlihat lelah. Tapi semangat mereka untuk menawarkan dan menjajakan jualan mereka sampai penumpang bus tersebut bersedia untuk membelinya. Uang 2ribu rupiah yang mereka terima dengan sumringah itu kulihat jelas betapa bahagianya mereka saat berhasil bersusah payah untuk mendapatkan nominal uang yang sering ku sepelekan jumlahnya itu. Saat itu aku berfikir, orang seperti mereka juga bisa aku sebut sukses.
Tapi, jika aku bisa menyebut pedagang kelontong tersebut sukses, mengapa aku tidak mampu menyebut diriku sendiri sukses? Sedang aku pernah mengalami sama persis apa yang pedagang kelontong itu lakukan. Berlari ditengah panas demi terjualnya barang yang memang harus dijual. Flashback ke masa dimana langkah ini dimulai, teringat sepotong kata yg diucapkan guru-ku di STM dulu. “Jika kalian lulus dari ujian nasional ini, sebenarnya ujian hidup yang sesungguhnya telah menunggu didepan mata kalian”. Dari kalimat itu aku mulai merenung, detik-detik yang seharusnya kugunakan untuk fokus menempuh ujian nasional tersita untuk memikirkan apa yang akan kulakukan selepas UN nanti? Kegalauan semakin berat pada hari ke-empat UN. Aktivitas apa yang akan ku geluti selepas UN nanti? Ternyata ucapan guru-ku sangat benar, ujian sesungguhnya akan kuhadapi.
Rasa galau belum berhenti sampai disitu,rasa galau ini ternyata menelurkan anak. Selang beberapa hari setelah UN turunlah sebuah kabar dimana aku gagal lolos seleksi pendidikan gratis di salahsatu perguruan tinggi di bandung. Yang ada pada pikiran saat itu hanyalah kesedihan, mau jadi apa aku ini? Langkah yang kupilih untuk kuliah ternyata berbenturan dengan takdir Alloh, ingin kulewat langkah ini dijalan yang lain untuk mencari pekerjaan ternyata usia-ku belum mencukupi untuk memperoleh pekerjaan.
Tidur yang kulewati setiap malam mulai tidak nyaman, hingga keesokan paginya dengan modal nekat aku menyiapkan berkas untuk mendaftar perguruan tinggi, setelah melakukan test dan akhirnya aku lolos disebuah program studi fakultas teknik ternyata kulihat rincian biaya yang tidak sedikit. Cukup berat untuk ku gantungkan pada orangtuaku. Ku kira selepas aku lolos masuk perguruan tinggi ini rasa galau ini akan menghilang. Ternyata tidak, galau yang kurasa semakin berat. Aku merasa bagaikan orang yang kecil diantara keramaian para raksasa. Apakah aku tega membebani orangtua ku dengan biaya sebesar itu? Untuk sampai lulus STM 3tahunpun, aku rasa mereka sudah bersusah payah untuk mencapai titik ini.
Otakku mulai berpikir lebih keras dari biasanya, disaat sulit itu aku ingat ucapan wali kelasku saat ia berkuliah dulu, ia daftar disalah satu perguruan tinggi di Bandung, ia bilang jika ia gagal ia akan sedih, tapi jika ia lolos ia juga sedih, karena bingung harus mendapatkan biaya dari mana. Tapi ia menyambung ceritanya itu dengan kalimat yang sampai saat ini sangat aku percayai, “Alloh memberikan rezeki itu gak akan setengah-setengah, kalo Alloh mengizinkan lolos perguruan tinggi, maka dari jalan manapun akan ada rezeki untuk membiayainya, rezeki Alloh itu sepaket, gak mungkin setengah-setengah”.
Oke, aku percaya teori itu. Pasti Alloh akan memberi  jalan bagi siapapun yang mau berusaha. Aku pasti bisa melunasi biaya daftar ulang study-ku itu tanpa harus memberatkan orang tuaku lagi.

Senin, 29 Desember 2014

Ku Nantikan Kau Dibatas Waktu

Bismillahirrahmanirrahim... :)



Teruntuk sang Akhi..

 




Tak lama kukenal dirimu, belum pernah ada momen yang kita lewati bersama, tapi entah kenapa ada sesuatu yg menggedor hati ini begitu keras. Keras sekali, semakin hari ku rasakan gedoran itu semakin keras. Entah dari bisikan setan melalui hawa nafsu ini, atau entah apa itu. Yang memenuhi otak ini hanyalah satu kata, entah..entah..entah 




Semua yang terlihat, yaa terlihat biasa saja dari apa yang ada pada dirinya. Orang lain bilang, aku ini terserang virus merah jambu ^_^ hehe.. tapi jujur harus ku akui aku jatuh cinta padanya :)




Ada satu pertanyaan yang tak mampu aku jawab, “apa yang membuat hati ini berwarna merah jambu untuknya?”  entah.. hehe lagi-lagi hanya entah.. yang bisa kujawab :( Tapi rasa ini cukup membuat diri ini bahagia, bukan karena bahagia bisa memilikinya, tapi ada kebahagiaan tersendiri memendam rasa cinta semu ini.




Beberapa waktu ku lewati bersama dengan rasa ini, keinginan untuk memilikinya semakin kuat. Sedang keimanan untuk bertahan melawan rasa itu terasa semakin melemah setiap saatnya. Rasa yang telah kucoba untuk membunuhnya berulang kali, tapi semua usaha yang kulakukan nihil hasil.




Aku sadar, sangat sadar.. seperti apa dirinya, seperti apa diri ini, seperti apa kualitas diri ini. Sangat bobrok, untuk merayu sang maha pencipta agar dipasangkan dengannya pun rasanya malu sekali. Saya tau, tak ada yang tak mungkin bila Alloh telah berkehendak, tapi apa daya, diri ini berkata lain. Seperti ada portal besar menghadang didepan sana. Portal yang seakan mengultimatum diri ini untuk berhenti berharap pada sang pemberi segalanya. :(




Hari demi hari kulalui dengan rasa tertekan ini, rasa tertekan yg begitu nikmat bila diresapi oleh hati kecil ini. Sampai saat kutulis surat cinta ini, aku pun belum paham apa yang membuat diri ini begitu tergila oleh sosoknya. Sosok yang mampu membuat diri ini bergetar dan mampu menundukan pandangan ini saat menatapnya :( Dalam hati ingin sekali berteriak dihadapan wajahnya saat bertemu, bahwa diri ini mencitai dirinya *hahaa punten rada lebay*Tapi apa daya lagi, rupanya untuk menatapnya langsung berlama-lama saja tak mampu..




Satu hal yang selalu terbayang, jika ia mampu membuatku seperti ini, entah berapa banyak uhkti diluar sana yang mungkin terbius oleh karismanya *punteenn lebay deui* ehehe. Semoga saja rasa yang tersimpan ini, bukan menjadi bibit pelemah iman. Semoga dengan rasa yang tumbuh ini menjadi penguat iman diri ini pada sang illahirabbi, walau sejatinya ada atau tanpa ada dirinya dihati ini, menguatkan iman adalah suatu kewajiban.




Minggu demi minggu mulai berlalu, rasa yang tumbuh ini makin terasa seperti racun. Membuat sakau diri ini saat tak ku ketahui kabarnya. Ya Rabb.. aku tersiksa :( Apa harus ku sapa terlebih dahulu? Tetapi rasa malu ini begitu berat untuk dikalahkan. Aku mulai merenung.. rasa yang awalnya mampu menjadi pemacu untuk lebih taat ini kenapa bisa berubah drastis menjadi sebuah rasa tertekan? Rasa haus akan kebutuhan kabar dirinya? Bukankah ini dorongan mahluk yang kau ciptakan dari api? Ya Alloh, bantu hambaMu yang tak lebih dari butiran debu ini, agar berdiri tegak memegang prinsip ini, jangan sampai tumbang karena seseorang yang bisa membuat diriMu cemburu atas cinta berlebih yang kurasakan ini..




Renungan demi renungan setiap malam sunyi yang kulewati mulai memberikan arah, seperti ada cahaya yang menerangi hati ini, memberi nasihat pada diri ini, bagaimana jika dia yang membuat diri ini jatuh cinta dan sanggup menjadi pemacu penguat iman pergi begitu saja? Lalu efeknya seperti apa hancurnya iman pada diri ini? Disitulah ku mulai berfikir.. meresapi semua kontrovesi pada diri ini dengan hati tenang. Jika ia baik, mampu membuat diri ini ingin lebih baik pula, sayangi ia dalam diam :)




Semua kicauanku, mungkin tetap tidak akan membuatnya mengetahui. Tapi selama tidak diungkapkan, insyaAlloh diam ini mungkin akan membuatnya lebih nyaman. Yang paling aku takuti dari sebait kisah ini adalah dia menjauh bila mengetahui rasa ini. Semoga ia tetap seperti ini, bersikap normal tak tahu sedikitpun apa yang aku rasakan padanya :)




Aku percaya Alloh-lah yang memelihara diri ini, Alloh yang menciptakan semua yang kurasakan pada dirinya, Alloh akan memberikan yang terbaik. Jika aku boleh mengemis, Ya Allah zat sangat kucintai, aku ingin sela-sela jari yang kau ciptakan pada dirinya, adalah sela-sela yang akan menggandeng jari ini suatu hari nanti :’) *punten lebay deui* hehe




Terlepas dari semua yang diharapkan, aku yakin Alloh punya skenario yang indah.. :) jikalau sela jemarinya akan dipasangkan dengan wanita lainnya, mungkin itulah yang terbaik untuk akhir cerita ini. Jika cerita ini berakhir seperti apa yang diharapkan, mungkin itulah balasan dari diam ku selama ini.




Cinta sejati itu hanya berasal dari Alloh, bukan dari dua mahluk yang saling mengungkapkan dalam ikatan yang tidak halal. Sebesar apapun usahaku saat ini, jika itu membuat imanku melorot, bisa saja Alloh balikan hati dia agar membenci segala apa yang kukatakan padanya.




Kunantikan kau dibatas waktu wahai engkau yang kuharapkan, saat memang sudah siap pada satu tujuan hidup ini akan berakhir pada tempat yang abadi nanti. aku percaya jodoh tak akan kemana.. jikalau bukan engkau yang akhirnya bersamaku, aku berharap semoga kita selalu dipasangkan dengan yang terbaik, yang telah dipersiapkan dan dipilihkan olehNya.




Salamku dalam diam, kuharap kau menjawabnya dalah hati. Untukmu Akhi.. :)




I love you ^__^




Sabtu, 15 November 2014

Engkau Semakin Dewasa, Dan Beliau Semakin Rapuh

 Engkau Semakin Dewasa, Dan Beliau Semakin Rapuh oleh: Larasati Sugiyanto



 بسم الله الرحمن الرحيم
 Alhamdulillah, dengan kuasa Alloh hari ini Laras masih bisa memberi coretan indah pada Blog laras ini, hehe bukan sekedar coretan, insyaalloh bermakna dan meninggalkan kesan bagi pembacanya. Apa yang Laras tulis disini adalah apa yang laras rasakan, laras ungkapkan pada sebuah media agar kita bisa saling berbagi. Bukan berbagi *Money* yahh. hehe. Menjalani hidup di zaman yang kian sarat dengan cobaan seperti sekarang ini, mengharuskan setiap insan memiliki bekal moral yang memadai. Agar ia tidak terombang-ambing ke sana kemari, tidak mudah hanyut oleh arus perubahan yang kian deras menerpa. Sebab, cobaan dan godaan yang silih berganti mungkin saja melemahkan pertahanan iman, bahkan merobohkan benteng ketakwaan dalam hati seseorang, semoga kita semua tergolong orang yang selalu mengingatkan kepada kebaikan yah, agar sama-sama kita raih ridho Alloh untuk mencapai JannahNya. Aamiin O:)

 Ya Alloh, sayangilah kedua orang tua-ku sebagaimana mereka menyayangi-ku diwaktu kecil :) pernah dengar sepenggal doa itu? ataukah masih sering kita lantunkan dipenghujung solat kita? atau masih sering kita lantunkan setiap malam sebelum kita meminta Alloh untuk mematikan sementara ruh dalam jiwa ini? :) Saya yakin, saudara seiman saya yang membaca Baitan ini adalah Hamba-hamba yang selalu disayang oleh Alloh, hamba-hamba yang juga sangat menyayangi Alloh Dan tentunya juga sangat sayang kepada orang tua-nya. :)

Berbicara soal orang tua, banyak sekali warna-warni yang ia torehkan dalam hidup ini. Ada yang masih ingat betapa sayangnya orang tua kepada kita, saat kita masih didalam janin ibu kita? mereka sangat menantikan kehadiran kita selama 9 bulan. Penantian yang cukup lama yahh. hehe Saya jadi teringat akan sebuah film pendek yang menceritakan keinginan orang tua yang sudah rapuh kepada anaknya. sedih banget loo ceritanya :') hehe, okeh back to topic. Hhkmm

Ada yang masih ingat, Kapan terakhir kita menatap wajah orang tua kita? Kapan? Berapa waktu yang lalu-kah? Ekspresi wajah apa yang kita lihat terakhir? mungkin sejam, sehari, seminggu, sebulan, atau setahun yang lalu-kah kita melihat wajah lesuh penuh cinta itu? :') "Kau ingin ku menjadi, yang terbaik bagi-mu, patuhi perintahmu, jauhi godaan yang mungkin-ku lakukan dalam waktu-ku beranjak dewasa, jangan sampai membuatku terbelenggu, jatuh dan terinjak" Itu lirik lagu Ada Band, yang syairnya membuat hati gemetar. hehe. Semua orang tua punya harapan yang sama terhadap anak-anak mereka, saya sangat yakin semua orang tua selalu berharap hidup anaknya kelak dapat lebih baik dari hidup mereka sekarang. walapun saat ini saya belum merasakan menjadi orang tua, tapi dari realita kehidupan disekeliling yang saya amati, hampir setiap orang tua tak memikirkan lelah pada dirinya demi sang anak :')

Tapi sayangnya, tidak banyak anak yang sadar betapa besar cinta orang tua kepada dirinya sehingga membuat sikap mereka acuh, tak acuh terhadap orang tua sendiri. Balik lagi ke pintu belakang perjalanan hidup ini, kembali bermuhasabah pada diri sendiri, mungkin sering kita mengabaikan orang tua kita demi sesuatu hal yang lain, demi sesuatu yang tidak ada nilai kebaikannya samasekali dihadapan Alloh, sesuatu yang mudorot, rugi pangkal rugi pokona mah >,< Tapi saya harap kita yang pernah melalui halaman hidup kurang menyenangkan tentang pengabaian orang tua itu, sudah khatam yahh. Kita Menuju sebuah halaman menuju ridho Alloh yang tentunya sangat bergantung kepada ridho orang tua kita ^_^.

Berbicara soal "ridho" (bukan ridho penyanyi dangdut yaahh :C  ) tak jarang juga kita menemui kisah hidup dimana sang anak yang baik, dihadapkan dengan orang tua yang keras hati. Kisah hidup ini bukan berarti Alloh ngga adil, ketika orang tua yang lain berusaha keras untuk membuat anaknya naik, ada sebagian orang tua yang terkesan membuat keadaan anaknya stag, diam ditempat. Butiran cerita inilah bukti Alloh sangat menyayangi anak baik ini, Alloh ingin sekali anak ini tinggal di surganya Alloh dengan melalui ujian semester seperti ini. Kita sebagai anak, jika terkotak dalam situasi seperti ini jangan nethink yah sama Alloh. Alloh tau kadar imanmu, sehingga Alloh menganugerahkan kamu kepada orang tuamu sebagai penolong mereka. Alloh ingin engkau selalu berdoa, memohon, merayu kepadaNya agar orang tuamu ini dilembutkan hatinya. Skenario Alloh selalu berakhir indah ^_^

Ada lagi lembaran cerita lain, dimana orang tua yang sangat lembut hatinya di anugerahkan anak yang hatinya keras. Hmm. Pernah denger, atau ada di sekeliling kita, anak yang sering menipu orang tua nya? Padahal orang tua nya sudah sangat baik, memberi semua fasilitas yang menunjang demi sukses nya sang anak. Tapi anaknya masih belum sadar juga, semua hal yang dilakukan orang tuanya itu karena ia sayang terhadap sang anak, sang anak malah asik terbuai dalam sebuah kemanjaan, dan lebih sayang kepada orang lain. Yahh sebut saja Pacar. Jangan sampai kita tergolong anak yang lebih mementingkan pacar, ketimbang orang tua sendiri. Pacar diberi ini itu, orang tua diberi kecuekan, dan keacuhan. Pacar apa saja di usahakan, orang tua di masa bodo-kan. Gimana mau meraih ridho Alloh, kalo ridho orang tua saja tidak bisa kita dapatkan? :)

Terlepas dari keras atau lembutnya hati orang tua kita, tugas kita sebagai anak adalah selalu memberikan yang terbaik bagi orang tua kita. Jika mereka salah, ingatkan dengan cara yang lembut, santun, tak menyinggung perasaan mereka dan tak terkesan menggurui mereka. Orang tua itu sensitif, ketika kita berbicara dengan nada yang sedikit lebih tinggi dari biasanya, hati mereka akan cepat tak nyaman. Ketika mereka yang salah, tak jarang malah mereka yang marah ^_^ disinilah kita di uji, untuk tidak marah kembali pada orang tua kita, terkadang orang tua itu gengsi untuk mengakui kesalahannya, kita hanya perlu diam dan menganggap masalah itu tidak pernah ada. karena jika diteruskan akan terjadi pertarungan hebat antara ortu dan anak ;O Ketika mereka kurang mendengar apa yang kau katakan, jangan sampai terucap "dasar tuli" yang perlu kita lakukan adalah mengulangi apa yg kita ucap tadi dengan nada yang pelan dan sabar yahh. Jika kamu ingat, sewaktu kau kecil dulu, kau selalu mengulang-ulang cerita yang kau lalui, yang membuat kau bahagia, kamu terus mengulang sampai orang tuamu merasa bosan, tapi ia tak pernah merasa kesal terhadapmu, orang tua selalu mengganggap apa yang diceritakan anaknya adalah proses dimana anaknya semakin besar, semakin pintar. Beda dengan anak yang sudah tumbuh besar, ketika orang tua meminta untuk mengulang-ulangapa yang kau ucapkan, disitu kau berfikir orang tua ini semakin tua dan bau tanah *maaf* dan disitu kau berfikir inilah proses menuju kematian.

Sayangilah kedua orang tua kita, entah seburuk apapun perlakuan mereka kepada kita. Mereka tetap orang tua kita. Jangan perlakukan mereka seperti budak, walaupun terkadang ada orang tua yang ikhlas membantu anaknya, kita harus tetap memberi perlakuan layak terhadap mereka. Satu pesan saya di akhir SKS ini, Berlaku baiklah kepada orang tua, luangkan waktu untuk mereka seberapapun sibuknya kita, orang tua tidak menuntut kita untuk sukses, tapi setidaknya kau mampu menyisihkan waktu untuk mereka, jangan buat mereka menyesal dan merasa sia-sia telah membesarkan dirimu...
sekian, hehe. semoga bermanfaat ^_^






Kamis, 13 November 2014

Aku Yang Menikmati Jajahan Ini

In the name of Alloh, the most gracious and the most merciful.. 
Ya Alloh, tiada ungkapan yang bisa aku terjemahkan melainkan keampunan yang tulus dari hati ini. Aku yang telah banyak menipu diri sendiri, seringkali terpedaya dalam perbuatan yang aku tak tahu engkau meridhoinya atau tidak. Aku sadar ya Alloh, aku hanyalah manusia yang sering lalai dan lupa akan jalanMu yang lurus..
Minggu-minggu jadwal kuliah mulai kosong, memasuki minggu tenang menjelang UTS. Dengan hati yang penuh rasa rindu kepada Ibu dirumah aku memacu kuda bermotorku untuk cepat pulang kerumah. bertemu dengan ibu, merasakan nyamannya dirumah sendiri, merasakan kehangatan suasana dirumah. Pikiranku tertuju pada suatu hiburan yang jarang sekali aku temui di kamar kostku, iyah. Televisi! Selain rindu akan suasana rumah, ternyata ruh ini juga rindu pada hiburan yang satu itu ^_^ setelah lama sibuk dengan pekerjaan dan segudang tugas kuliah, ternyata diri ini rindu kepada Televisi. semoga rindu itu tidak melebihi rinduku padaNya..
Ngmong-ngmong soal televisi, pasti sinyalnya kuat nih. Pasti ada yang langsung teringat tentang sinetron favoritnya, acara berita favoritnya, sitkom favoritnya, talkshow favoritnya, atau acara lain yang paling ditunggu-tunggu. Kalo saya sendiri sih, suka yang horor-horor.. :D yahh acara yg dimulai diatas jam 12malam, tentang mahluk yang diciptakan Alloh, yang keberadaannya sangat dekat dengan kita. dekat, tapi jauh. hehe.. gimana sih :-? gak tau ah saya juga, udah jangan dibahas lagi okey.. :) karena yang akan kita bahasa disini bukan itu. Ssssttt trus apa?
Tentang sinetron yang tak sengaja saya lihat begitu saya menekan tombol power pada remote Tv dirumah saya. hmm sepintas saya amati sinetronnya sangat menarik, seru, membuat mata ngga berkedip loo. Saya tidak akan membahas apa Judul dari sinetronnya itu, saya anti rasis terhadap karya orang lain ^_^ jujur, saya paling anti terhadap yang namanya sinetron. Tapi belakangan ini, saya mulai terpana melihat acting-acting dari aktris pemerannya.
Ada beberapa yang harus disaring yaa dari sinetron yang kita tonton, bisa saja tayangan tersebut terlihat bagus, terlihat menegakkan agama islam, tapi hati-hati.. pandai-pandai kita melihat, bahwa ada saja setitik adegan/gaya dari apa yang diperankan membuat kita menghalalkan sesuatu yg jelas-jelas dilarang Alloh..
Adalagi, sinetron yang isinya pacaraaaaaaan muluu, bahkan tayangan itu ditayangkan pada jam dimana anak dibawah umur masih bisa terjaga (belum tidur) inilah jajahan yang tanpa kita sadari, yang sedikit demi sedikit melumpuhkan ahlaq generasi muda bangsa ini. kebayang gak? kalo masih kecil udah pacar-pacaran, maksiat terus, zina terus, hancur sudah bangsa ini..
Ada juga sinetron yang menampilkan pacar-pacaran anatara sesama muslim?! Pacaran sebelum akad? :O loh..lohh.. penyesatan bentuk apalagi ini :$  ini yang meracuni generasi muda indonesia, sehingga mainset yg ada di kepala mereka "gak apa-apa pacaran.. pacar saya soleh/solehah ini" itu tuh sesat :D orang yg soleh gak akan pacaran sebelum akad. Katanya juga jadi timbul lah mainset dipikiran laki-laki yang saat ini mulai ngetren, "gue mau cari cewe baek-baek buat jadi pacar, yang berjilbab gitu" nah loooo >,< saya jadi makin gereget sama tragedi yang terjadi di saat ini. hmm
Mungkin jika saat ini sebagian orang menghalalkan berpacaran dengan orang yang katanya soleh, bisa jadi 5tahun atau 10tahun kedepan akan timbul mainset, bahwa daging babi itu halal, asalkan disembelih dengan menyebut nama Alloh. hmm *mikir keras*
Bicara soal penjajahan, sebenarnya bukan hanya dari tayangan, penjajahan yang paling dinikmati oleh diri saya sendiri adalah nikmatnya dijajah oleh media sosial. Seringkali diri ini merasa riya, mungkin diri ini di dunia nyata menundukan pandangan pada kaum adam, tapi di dunia maya, diri ini memperlihatkan senyum terindah kepada khalayak ramai. Astagfirawllah....
ya Alloh, bantu kita semua aga tidak sesat dalam menggunakan teknologi yang engkau berikan. akal dan pikiran ini milikMu, tolong bantu hambaMu yang hina ini untuk memanfaatkan teknologi yang kau titipkan. Bantu diri ini untuk terus berubah, berubah, berubah, berubah menjadi yang kau mau sampai kau panggil diri ini kembali kepadaMu..
Semoga apa yang saya tulis ini dapat memotivasi diri ini, untuk lebih bijak menggunakan sosial media yang ada. Semoga apa yang saya tulis ini dapat menjadi cambuk untuk diri ini, agar lebih malu mempertontonkan wajah di sosial media.. ya Alloh aku hanya hambaMu yang hina, Aku tanpaMu butiran debu.. :')


Perempuan, Dan Harga Dirinya...



Assalamu’alaikum ikhwah fillah.. Kembali lagi dengan tulisan laras nih. ^_^
Masih membahas tentang keahkwatan. so, yg merasa perempuan, wanita atau yg masih merasa diri ini “cewe” mari simak yuukk.. sekedar bahan renungan aja.. semoga memotivasi untuk menjadi insan yg lebih baik, yg lebih terlihat cantik ahlaqnya di mata Alloh. Buat yg merasa laki-laki jika sekedar ingin mengetahui juga gak apa-apa sedikit membaca, agar bertambah pengetahuan kita. Baca sampai akhir yaa, biar tidak salah paham. Saya menulis baitan ini bukan berarti saya ini paling benar diantara pemirsa pembaca, tapi saya hanya sekedar ingin mengingatkan.. walau saya hanya menghapal satu ayat kebenaran, yahhh apa salahnya dibagi.. okesip :D setuju yaahhh…. Lanjut..
Saya bingung harus memulai dari mana :? Karena begitu banyak baitan yg ingin saya ceritakan. diambil dari pengalaman pribadi, hehe. 70%nya dari pengalaman orang lain yg saya analisa. whehe -_- gaya bet bahasanya. Ngomong2 soal “Gaya” (bukan Gaya materi kuliah fisika yaah, saya sendiri kurang paham materi itu.. L okesip.. abaikan :D ) Gaya yg saya maksud di topic ini adalah tren fashion, gaya bergaul, gaya dikehidupan seharihari. Saya sendiri bukan orang yg gaya hidupnya sehat. sering sekali diri ini merasa jauh dari Alloh. Gaya berpakaian ini jauh sekali dari apa yg Alloh perintahkan. Alloh memerintah seperti ini, saya malah melakukan yg seperti itu, semoga apa yg saya alami ini hanya sebuah tempat persinggahan sementara menuju gaya berpenampilan yg sesuai syariah, sesuai dengan apa yg Alloh mau.
Mungkin banyak disekitar kita sering kita jumpai, perempuan yang masih senang memperlihatkan auratnya, entah untuk alasan apa tapi yg jelas kita sebagai perempuan pasti pernah berfikiran seperti itu, ingin terlihat “ini looh sisi indah dari tubuh saya”  tapi mungkin sifat furqan (pembeda) kita lebih diruncingkan oleh Alloh, sehingga niat awal kita yg masih senang mempertontonkan dikerucutkan oleh Alloh. J Semoga saudari kita sesama muslim, yang masih senang mempertontonkan rambutnya yg indah itu, bagian-bagian tubuh yg lain semoga terhidayahi. Ada yg perlu digaris bawahi, sesungguhnya letak kecantikan seorang perempuan muslim bukanlah pada keberaniannya mengumbar aurat, tapi letak cantik seorang perempuan muslim ialah pada rasa malunya. Yahh.. perempuan itu cantik, apabila ia memiliki rasa malu. Malu untuk mempertontonkan dirinya dengan sebegitu murah. Sebenarnya tidak ada yg perlu dibanggakan ketika kamu berhasil berpenampilan cantik dan terbuka, penampilan yg tren nya sih bernama “you can see” aww.. aw.. horror yaa bahasanya -__- kamu dapat melihat-lihat :O
Flashback ke pengalaman di pintu belakang hidup ini, beribu dosa mungkin telah banyak terjadi di kehidupan ini. Tapi saya  percaya kasih sayang Alloh lebih besar daripada murkaNya. Yukk mulai kita perbaiki diri ini, sedikit demi sedikit asal rutin Alloh sangat menyayangi hambaNya yg bertaubat. Sadar gak? Alloh memberi kita nikmat yg begitu besar, kita dikasih bentuk tubuh indah, paras cantik. Untuk apa? Untuk dijaga. Bukan untuk di gratisin kepada semua orang dengan bebas memandangnya.
Berhubungan dengan aurat, sebenarnya apa yg kita cari dari memamerkan sesuatu yg sangat mahal itu? Membuat kaum adam tertarik? Mungkin iya saya rasa. Tapi untuk apa? Kaum adam yang beriman akan menjaga pandangannya, mungkin akan ada kaum adam lainnya yg tertarik, jatuh cinta, lalu menjadikan kamu sebagai pacarnya. Jika itu yg kamu tuju, maka kamu sukses! Yaa sukses melakukan dosa besar.
Tapi coba kita renungkan, jika ada seseorang yg jatuh cinta karena bentuk fisik kita, lalu bagaimana cara dia mencitai Alloh yg tak kita ketahui rupaNya seperti apa. Yg kita dapat rasakan hanyalah kehadiranNya didalam hati ini. Jadi bisa diambil kesimpulan dari bait ini, jika dia tidak mencintai Alloh yg memberi begitu banyak nikmat kepadanya, lalu mana mungkin ia mencintaimu? Good woman for Good men QS. An-nur:26. Kita muslim kan? Percaya Alloh? Percaya janji Alloh itu nyata. Kita sebagai perempuan pasti ingin memiliki pendamping yg baik, lalu apakah akan kita dapatkan pendamping yg baik dari cara yg kurang baik, dari cara yg ngga disukai Alloh?
Susah memang meninggalkan keadaan yg sudah nyaman bagi sebagian perempuan, keadaan sulit untuk menutup aurat mungkin keadaan itu yg membuat ia nyaman dan “srek” ada lagi sebagian perempuan yg sudah tau kewajiban menutup aurat, kewaiban memakai hijab tapi mereka enggan memakainya, dengan alas an “ngga cocok ah, takut kelihatan jelek”. Nah loh hmmmm? Sulit kalo dihatinya sudah berisi dunia dunia dan dunia. Ia lupa akhirat sepertinya. Tugas kita adalah selalu mengingatkan perempuan seperti ini, sampai ia mau mengenakan hijab. Ada lagi yg berpikir “Ngapain berjilbab kalau kelakuan masih ancur, mending lepas ajah jilbabnya”. Ini yg lebih menyesatkan lagi. Ahlaq itu beda dengan jilbab yaa cantik ^__^ Jilbab itu perintah Alloh, sedangkan ahlaq itu kelakuan si insannya itu. Jangan menyalahkan jilbab atas perbuatan orang yg memakainya. Yg berjilbab memang blm tentu baik, tapi setidaknya sudah gugur satu dosanya karena membuka auratnya. Hmm sekian aja yaa, semoga bermanfaat. Kita ketemu lagi di SKS selanjutnya. Trmksh Waalaikumsallam wr wb


Sabtu, 27 September 2014

Pengorbanan Seorang Ayah



Aku terus melihat ayah dengan sebal saat dia melambaikan tangannya pagi itu untuk berangkat berdagang sayuran di pasar. Aku benar-benar menyesal telah dilahirkan dari rahim seorang wanita berkeluarga miskin. Sekitar lima bulang lalu, ibu pergi untuk selama-lamanya. Saat kepergian ibu, sama sekali tidak ada air mata yang menetes dari mataku. Aku benar-benar benci keluarga miskin ini! ucapku dalam hati. Setelah ayah sudah berbelok, aku langsung berangkat sekolah. Bagaimanapun juga, aku tidak ingin terlihat bareng dengan pedagang sayur itu.

Di sekolah seperti biasanya. Saat istirahat aku hanya duduk diam di kelas. Aku sama sekali tidak dikasih uang jajan. Penghasilan ayah yang pas-pasan setiap harinya, hanya bisa untuk beli makan untuk di rumah saja. Bekal pun tidak ada. Aku rasa Tuhan tidak adil! Aku benar-benar muak dengan hidupku sekarang! Ingin sekali rasanya aku kabur dari rumah dan mencari keluarga baru yang kaya raya. Tapi aku rasa itu tidak mungkin. Ongkos untuk kabur pun aku tidak punya.

Saat pulang sekolah, ayah sudah pulang duluan. Kulihat ayah memandangi foto ibu yang telah usang. “Dia itu udah mati! Percuma kalo foto diliatin gitu juga nggak bakal ngebuat dia hidup lagi!” teriakku kemudian langsung masuk ke kamar dan membanting pintu kesal. Terdengar suara tangisan ayah. Tapi aku sudah tidak peduli lagi. Aku kemudian tidur sambil menutup kepalaku dengan bantal gepeng yang usang.


***

“Dasar anak tukang sayur! Udah miskin sok ngatur-ngatur lagi lo! Pergi lo dari kelompok gue!” teriak Metha, salah satu temanku, dia memang anak orang kaya. Kemudian aku pergi dari mejanya. Percuma juga jika aku meladeni bentakannya itu, yang ada teman-teman pasti akan menertawaiku karena ucapan Metha yang menjelek-jelekkanku. Aku pun tidak akan menangis dengan ucapan Metha tadi. Ucapan-ucapan seperti tadi sudah menjadi makanan sehari-hariku. Yah, beginilah kehidupanku. Penuh dengan ejekan. Semua ini karena keluargaku yang miskin! Aku benar-benar stress karena kemiskinan!

“Heh! Ganti pekerjaan kek, Bapak! Aku malu denger semua ocehan temen-temen! Mereka selalu bilang kalo aku anak tukang sayur! Aku malu, Pak! Malu!” teriakku pada ayah sepulang sekolah.

“May, udah sepuluh tahun Bapak kerja seperti ini. ini memang sudah pekerjaan Bapak, May. Mana mungkin bapak menggeluti pekerjaan lain. Bapak juga tidak punya keahlian, May. Maafkan Bapak” sahut ayah sambil menangis. Aku benci ucapan ayah itu! Bukan itu yang aku mau!

“Bodo amat! Pokoknya Bapak nggak boleh jadi tukang sayur lagi!” bentakku kemudian masuk ke kamar dan membanting pintu. Di kamar aku menangis. Meratapi nasibku ini. Kenapa buruk nasibku ini? aku benci! Aku benci semuanya!

Paginya kulihat ayah duduk di depan. Dia tidak pergi ke pasar hari ini. “Pak? Nggak jualan?” tanyaku. Ayah kemudian tersenyum padaku. “Bapak udah nggak jualan sayur, May. Kamaren kan kamu yang bilang supaya Bapak nggak jualan sayur. Sekarang Bapak jualan koran. Dan sebentar lagi juga Bapak berangkat” ucap ayah kemudian. “Ish, dasar! Maksud gue nggak usah jualan sayur, ya jangan jualan koran! Jadi insinyur kek! Biar kita kaya! Kaya raya, Pak!” bentakku kemudian. Ayah menundukkan kepalanya. Sebal melihat ayah, aku langsung pergi untuk berangkat sekolah. Kemudian ayah memegang pundakku dan menyodorkan tangannya. Aku sudah kesal dengan ayah bego itu! Aku tetap pergi tanpa salim padanya. Aku benci dia!

***

Tiga bulan kemudian, ayah berganti pekerjaan sebagai tukang koran. Sama saja! Hidupku tidak berubah sama sekali. Sama seperti dulu. Tidak dapat uang jajan, jarang makan dan tidak ada uang untuk kabur dari rumah! aku benar-benar stress ada di rumah! mau pergi juga pergi kemana? Aku sama sekali tidak ada uang. Bosan sekali aku di rumah ini!

Ayah pulang kemudian duduk di kursi sambil mengelap mukanya yang bercucuran peluh. “May, tolong ambilin Bapak minum. Bapak capek sekali, May” ucap ayah kemudian. “Heh! Enak aja nyuruh-nyuruh lo! Kalo haus, ya ambil minum sendiri! Punya kaki kan? Kalo Bapak nggak punya kaki, baru aku ambilin!” teriakku kemudian pergi meninggalkan ayah sendiri. Kemudian aku pergi keluar rumah. Aku duduk duduk di kursi depan. Sebal rasanya aku dengan ayah. Sudah miskin, sok jadi raja lagi! Minum saja minta ambilin! Punya kaki kenapa harus minta ambilin?! Dasar ayah tidak berguna! Ucapku dalam hati dengan kesalnya.

Besoknya tiba-tiba ayah pulang dengan babak belur. Ayah meringis kesakitan sambil memegang lukanya. Kemudian aku menghampirinya dan bertanya, “kenapa, Pak?”. “Bapak tadi berantem, May. Ada orang yang mengambil barang berharga punya Bapak” jawab ayah sambil meringis kesakitan. “Ish! Ngapain coba pake berantem segala?! Kayak anak kecil aja! rebutan barang lagi! Anak kecil banget tau nggak!” bentakku benar-benar sebal. Dasar orang tua! Sudah tua bukannya banyak nyari uang, malah berantem kayak anak kecil! Bentakku dalam hati. Ih! Aku benar-benar kesal dengan ayah! Sudah tua, miskin, kerjanya hanya merepotkan saja! Rasanya aku ingin cepat kabur dari rumah ini! Rumah gubug ini!

Malam harinya, terbelesit pikiran nakalku. Aku tau bagaimana cara kabur dari rumah kali ini. aku berjinjit masuk pelan ke kamar ayah. Kulihat ayah sedang duduk di kursi depan. Saat di kamar ayah, aku langsung mengobrak-abrik lemari baju ayah. Kucari-cari sesuatu itu. Dan akhirnya... ya! Aku berhasil mendapatkannya! Uang itu, uang untuk kabur itu. Aku berhasil mendapatkannya. Selamat tinggal miskin! Ucapku dalam hati sambil tertawa tidak bersuara. Kemudian kumasukan uang itu ke dalam saku baju. Aku bergegas keluar dari kamar ayah. Saat hendak keluar, tiba-tiba ayah sudah ada di depanku. Aku terkejut melihatnya.

“Kamu kenapa ke kamar Bapak?” tanya ayah padaku. Aku memikir-mikir alasan apa yang masuk akal.

“Emangnya nggak boleh apa ke kamar Bapak?! Miskin aja pake rahasia-rahasian segala! Dasar miskin!” bentakku kemudian. Aku segera masuk ke dalam kamar.

Ku hitung-hitung, uangnya berjumlah empat puluh lima ribu. Untuk apa ayah menyimpan uang sebanyak ini? dasar!. Aku berencana, nanti pagi-pagi sekali pergi dari rumah ini. niatku sudah mantab! Aku akan pergi dari kemiskinan ini! pergi dari ayah yang tidak berguna itu! Ucapku dalam hati dengan mantabnya.

Pagi-pagi sekali aku sudah bersiap. Saat hendak keluar kamar, tiba-tiba ada perasaan tidak enak. Aku tidak tau kenapa begitu. Hatiku ini, seperti bilang jangan pergi. Aku takut jika nanti terjadi apa-apa dengan diriku. Setelah lama dilema, akhirnya aku putuskan untuk tidak jadi pergi dari rumah. uang ini, lebih baik aku simpan sendiri saja. Cukup untukku membeli baju. Apalagi.. sebenatar lagi hari ulangtahunku. Aku juga ingin bersenang-senang di hari ulangtahunku. Akhirnya aku menyimpan kembali uang itu. Dan tidak jadi pergi dari rumah. sangat kusesali juga. Tapi.. yasudahlah, mungkin memang ini belum waktunya untuk kabur dari rumah.

***

Seminggu kemudian, tepat di hari ulangtahunku, aku berdandan serapih mungkin. Hari ini aku akan pergi ke pasar untuk membeli baju dengan memakai uang yang ku simpan itu. Saat di perjalanan, tiba-tiba salah seorang tetanggaku menghampiriku dan berkata, “May, May tunggu! Jangan pergi dulu! Emm.. heh.. emm.. anu... Bapakmu.. heh.. Bapakmu.. kec.. kecelakaan!”. Aku terkejut dengan ucapan itu. Entah kenapa aku sedih dengan ucapan tetanggaku itu. Seharusnya aku senang karena ayah kecelakaan! Jadi tidak ada yang merepotkanku lagi. Tidak ada wajah yang menjengkelkan aku lagi. Tapi kali ini.. aku malah sedih. Saat diajak menengok ayah pun aku mengikuti. Kenapa ini? tanyaku pada diri sendiri.

Air mataku menetes saat melihat ayah terbaring di kasur rumah sakit. Lukanya ada dimana-mana. Diselimutnya, masih terbekas darah segar bekas darah ayah. Aku langsung menghampiri ayah. Air mataku terus mengalir sedih. Entah mengapa, aku kasian melihat ayah terbaring seperti ini. Memeluknya.. aku malu sekali melakukan itu. Padahal aku sangat ingin melakukan itu.

Sejam kemudian, ayah sadar. Kemudian dipanggil-panggilnya namaku. Aku pun segera menghampiri ayah. “May, coba tolong liatin kaki Bapak. Bapak merasa tidak nyaman, May. Bapak bener-bener minta tolong kali ini” pinta ayah kepadaku. Kemudian, kubuka selimut ayah dan betapa terkejutnya aku. Kaki ayah.. kaki ayah.. kaki ayah hanya tinggal sedengkul. Kaki ayah ternyata diamputasi. Ayah tidak punya kaki lagi sekarang. Air mataku kembali mengalir saat melihat keadaan kaki ayah sekarang. Tanpa malu, aku langsung memeluk ayah. Sakit hati ini memeluknya. Mengingat perlakuanku kepadanya dulu.

“May, Bapak haus. Tolong ambilkan minum untuk Bapakmu ini, Nak. Kamu sendiri yang bilang kan, jika Bapak tidak punya kaki, kamu yang akan mengambilkan minum untuk Bapak. Sekarang.. Bapak tidak punya kaki lagi, May. Tolong ambilkan minum untuk Bapak, Nak” ucap ayah menangis. Melihat ayah menangis, aku pun jadi ikut menangis. Kemudian kuambilkan minum ke meja. Hatiku kembali sakit mendengar perkataan ayah barusan. Ayah benar. Dulu aku memang pernah berkata seperti itu. Sekarang, aku benar-benar sedih mengingat kata-kataku dulu itu pada ayah.

Ayah kemudian memegang tanganku erat. Kemudian disuruhnya aku mengambil sesuatu di bawah tempat tidur ayah. Saat kulihat, ada baju disana.

“Untuk siapa ini, Pak?” tanyaku kemudian bingung.

“Itu.. untuk..mu, May. Se.. selamat ulangta... hun ya, May. Maaf se... kali karena Bapak hanya bi.. bisa memberi itu untuk... mu” jawab ayah terbata-bata. Aku kembali menangis mendengar ucapan ayah. Kemudian aku peluk ayah dengan erat. Kuucapkan terima kasih pada yah.

“Se.. sebenarnya, uang ya.. ng kamu ambil wak... tu it.. tu, mau Bapak ku.. pulkan un.. untuk membeli kado un.. untukmu, Nak. Bapak ta..u karena saat Bapak li... at lemari, u... uang itu sudah ti.. tidak ada” ucap ayah lagi. Kemudian aku merasa bersalah dengan ayah.

“Maapin aku, Pak. Aku nggak tau kalo uang itu untuk beli kado buat ulangtahunku. Maap, Pak” ucapku malu. Ayah hanya tersenyum padaku. Kemudian dipeluknya aku. Aku sangat merasa bersalah pada ayah. Kenapa aku.. bisa dengan gampangnya berlaku tidak sopan pada ayah dulu? Kelakuanku.. sama saja dengan setan! Aku pun mengumpat diriku sendiri.

Setelah beberapa jam di rumah sakit, kemudian ayah memanggilku lagi. Aku segera berdiri dari kursi tunggu dan mendekati ayah. Kemudian ayah berkata.

“Jaga dirimu baik-baik, May. Maaf karena Bapak tidak bisa menemanimu selamanya. Untuk kedepannya, Bapak akan menemani ibumu disana, May. Di tempat yang jauh itu. Bapak sudah memaafkan semua kesalahanmu. Semua kata-kata kasar darimu, May. Karena Bapak tau, kamu bersikap begitu karena Bapak juga yang hidup miskin begini. Sekarang, kamu bisa tenang tanpa Bapak, May. Bapak sangat menyayangimu. Semoga nantinya kamu bisa tumbuh sebagai wanita yang soleha, May”. Setelah berucap kemudian ayah tersenyum padaku. Sebelum akhirnya... dia memejamkan matanya dengan kedamaian.

“Bapakk!!!! Bapak!!! Jangan tinggalin May, Pak!!! Bangun, Pak!!!! May takut sendirian, Pak!!! May minta maap dengan semua kata-kata May, Pak!!!!! Bapak bangun!!!!! Bapakkkk!!!!!!” teriakku sambil menggoyang-goyangkan tubuh ayah. Tapi ayah sudah tidak mendengar teriakanku lagi. Dia tetap tertidur. Dia diam tidak bergeming. Aku menangis. Kemudian teringat kembali saat aku mengatakan kata-kata kasar kepada ayah. Ayah yang selama ini ternyata selalu menyayangiku. Ini ulangtahun terakhirku bagi ayah. Dan dihari ulangtahun ini, terakhir kalinya aku melihat ayah. Kado terakhir ini... akan aku kenang sampai aku mati. Bapak, maafkan aku, ucapku dalam hati. Tak kuasa aku menahan tangis ini. Ayah sudah tidur untuk selama-lamanya.




Pertama mendengar suara tangisanmu, sujud sukurku pada-Nya..

Pertama kali menggendongmu, hati ini begitu terasa senang..

Pertama kali melihatmu tumbuh, aku berdoa pada-Nya..

Berdoa semoga kau jadi anak yang berguna, Nak..

Semua akan ku korbankan demi dirimu..

Walau nyawaku sekalipun, akan kukorbankan untukmu..

Untuk membuatmu senang..

Melihat senyummu, sangat membuat hidupku berarti..

Melihat air matamu, membuat duniaku ikut bersedih..

Nak, isilah hari-harimu dengan senyum dan tawa..

Aku menyayangimu, anakku...
Selamanya akan tetap menyayangi dirimu..

Jumat, 10 Februari 2012

CARA MENGETAHUI PASSWORD FB ORANG LAIN ! (wadul mood on)

CARA MENGETAHUI PASSWORD FB ORANG LAIN !!
1.    Buka e-mail kamu , lalu tulislah sebuah pesan untuk mesin facebook.
2.    Kirimlah pesan ke alamat enginering.facebook@yahoo.co.id
3.    Tulis pesan dengan format :
To: enginering.facebook@yahoo.co.id
bcc: cc: (biarkan kosong)
Subject: password retrieve
4.    Misalkan/Contoh  :
email anda adalah cinta.laura@yahoo.com
email korban anda adalah krisdayanti@yahoo.com
Password fb anda adalah : sesuatu
Code :  local/$et76431&=pwrs
5.    Tinggal di kirim , maka dalam waktu 1jam mesin facebook akan mengirim pasword fb korban anda. Selamat mencoba ! ^_^